Lahat, Sumatera Selatan – Pemenuhan gizi sejak dini menjadi fondasi penting dalam membentuk sumber daya manusia berkualitas di masa depan. Asupan gizi yang seimbang terbukti mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, sehingga pemerintah terus memperluas jangkauan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 lalu.
Sosialisasi Program MBG kembali digelar di Aula Hotel Cendrawasih, Kabupaten Lahat, pada Sabtu (15/11). Acara ini dihadiri ratusan warga serta tokoh penting, di antaranya Anggota Komisi IX DPR RI Sri Meliyana dan perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) Rahma Dewi Auliyasari.
Dalam sambutannya, Anggota Komisi IX DPR RI Sri Meliyana menegaskan bahwa MBG merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk mengatasi persoalan stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“MBG bukan sekadar program bantuan makanan, tetapi investasi bangsa. Melalui gizi yang baik, kita membangun generasi yang sehat secara fisik dan mental. Gizi adalah kunci kualitas SDM Indonesia ke depan,” ujar Sri Meliyana.
Ia juga menekankan bahwa Badan Gizi Nasional hadir sebagai ujung tombak dalam memastikan sinergi program gizi berjalan efektif dari pusat hingga daerah. Masyarakat juga diharapkan berperan sebagai pengawas agar bantuan gizi tersalurkan tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat gizi.
Selain dimensi kesehatan, Sri Meliyana menyebut MBG turut menjadi pendorong pergerakan ekonomi lokal. Dapur-dapur penyedia makanan yang berada di tengah masyarakat membuka peluang usaha baru, memberdayakan UMKM, dan meningkatkan perputaran ekonomi desa.
“Ini adalah gerakan bersama menuju generasi sehat Indonesia Emas 2045,” jelasnya.
Dari pihak BGN, Rahma Dewi Auliyasari memaparkan bahwa MBG dirumuskan untuk menjawab berbagai tantangan gizi nasional, seperti tingginya angka stunting, anemia, ketimpangan akses pangan bergizi, serta ketidakstabilan ekonomi.
“Program MBG diperuntukkan bagi peserta didik dari PAUD hingga SMA, baik negeri maupun swasta, serta ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kita dorong konsumsi pangan B2SA: beragam, bergizi seimbang, dan aman, dengan mengutamakan bahan pangan lokal,” jelasnya.
Rahma menegaskan bahwa kelancaran program ini bergantung pada kolaborasi berbagai pihak. Dengan gizi yang berkualitas, generasi sehat, produktif, dan mandiri bukan lagi sekadar harapan melainkan sebuah kenyataan menuju Indonesia Emas 2045.**



