CIREBON – Komisi II DPRD Kota Cirebon merekomendasikan PAM Tirta Giri Nata untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap jaringan pipa tua. Rekomendasi ini muncul setelah Komisi II meninjau langsung perbaikan kebocoran pipa di kawasan Plangon, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Kamis (6/2/2026).
Ketua Komisi II DPRD Kota Cirebon, M Handarujati Kalamullah, menegaskan bahwa identifikasi usia dan kondisi jaringan pipa harus menjadi prioritas agar potensi kebocoran dapat diantisipasi sebelum berdampak luas kepada masyarakat.
Hasil monitoring di lapangan mengungkap fakta bahwa pipa yang mengalami kebocoran tersebut telah berusia lebih dari 50 tahun. Pipa itu diketahui merupakan bantuan dari Pemerintah Swiss pada tahun 1978 dan hingga kini masih menjadi bagian dari jaringan distribusi utama.
“Ini menjadi pelajaran penting. Jaringan pipa yang sudah sangat tua harus segera diaudit agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Handarujati yang akrab disapa Andru.
Komisi II juga mendesak Perumda Air Minum untuk bergerak cepat menyelesaikan perbaikan, mengingat air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak boleh terganggu terlalu lama.
“Alhamdulillah, setelah kami turun langsung dan berdiskusi dengan jajaran manajemen, perbaikan pipa ditargetkan rampung malam ini. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” katanya.
Andru mengapresiasi respons cepat direksi dan petugas PAM Tirta Giri Nata yang sigap menangani kebocoran pipa di Plangon. Namun demikian, ia menekankan bahwa penanganan darurat harus dibarengi langkah mitigasi jangka panjang.
Selain perbaikan teknis, Komisi II meminta PAM Tirta Giri Nata memastikan distribusi air bersih tetap berjalan dengan menyalurkan bantuan air menggunakan mobil tangki hingga ke tingkat RW.
“Kami menerima laporan dari sejumlah RW bahwa distribusi air bersih melalui tangki sudah berjalan. Ini harus terus dipastikan sampai layanan normal kembali,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Utama PAM Tirta Giri Nata, Sofyan Satari, menjelaskan bahwa kebocoran terjadi pada pipa transmisi berdiameter 600 milimeter yang tertanam di bawah badan jalan.
Kebocoran itu menyebabkan semburan air bertekanan tinggi hingga merusak lapisan aspal jalan dan membentuk rongga dengan kedalaman sekitar satu meter. Setelah menerima laporan, tim teknis langsung melakukan penelusuran untuk menentukan titik kebocoran.
“Begitu titik kebocoran ditemukan, kami langsung melakukan perbaikan. Proses pengerjaan diperkirakan memakan waktu satu hingga dua hari, tergantung kondisi cuaca,” ujar Sofyan saat meninjau lokasi.
Untuk meminimalkan dampak kepada pelanggan, PAM Tirta Giri Nata menyiagakan tiga unit mobil tangki air bersih guna melayani warga terdampak selama proses perbaikan berlangsung.**(MDR)



