BOGOR, Jawa Barat – Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus digencarkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Komisi IX DPR RI bersama Badan Gizi Nasional (BGN) di TK Uswatun Hasanah, Desa Sirnagalih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Sabtu (7/3).
Dalam kegiatan tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI Achmad Ru’yat menjelaskan bahwa program MBG merupakan langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama bagi anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.
Menurutnya, pemenuhan gizi yang baik merupakan fondasi penting dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
“Program MBG merupakan upaya strategis untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat dan berkualitas. Program ini juga menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam menurunkan angka stunting di Indonesia,” ujar Achmad Ru’yat.
Ia menambahkan bahwa program MBG tidak hanya memberikan manfaat dari sisi kesehatan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat, khususnya di sektor pangan lokal.
Menurutnya, pelaksanaan program tersebut dapat memberikan multiplier effect bagi perekonomian masyarakat melalui pemberdayaan petani, peternak, dan nelayan lokal sebagai pemasok bahan pangan utama.
Selain itu, sinergi dengan BUMDes dan koperasi di tingkat desa juga dinilai mampu menciptakan peluang kerja baru serta menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di pedesaan.
“Program ini memberi efek berganda bagi ekonomi kerakyatan dengan melibatkan petani, peternak, dan nelayan lokal sebagai pemasok bahan pangan. Dengan dukungan BUMDes dan koperasi, lapangan kerja di desa dapat kembali tumbuh,” jelasnya.
Achmad Ru’yat juga menyoroti peran program MBG dalam membentuk karakter anak-anak di lingkungan sekolah. Menurutnya, program ini terintegrasi dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang menanamkan nilai kedisiplinan, budaya antre, serta penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Melalui program ini, siswa tidak hanya mendapatkan asupan gizi yang cukup, tetapi juga belajar tentang kedisiplinan, budaya antre, serta pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa untuk menjaga integritas program, guru dan kepala sekolah tidak diperkenankan terlibat dalam kegiatan bisnis pengadaan logistik MBG. Hal ini bertujuan agar mereka dapat fokus pada pengawasan perkembangan gizi dan prestasi belajar siswa.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, masyarakat diharapkan dapat memahami secara lebih luas manfaat Program Makan Bergizi Gratis serta mendukung pelaksanaannya sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas gizi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.**



