Makassar – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperkuat pemerintah sebagai langkah strategis meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045. Melalui kegiatan BGN Goes To Campus, Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong penguatan kolaborasi berbasis ilmiah bersama perguruan tinggi guna memastikan implementasi program berjalan optimal di seluruh Indonesia.
Kegiatan BGN Goes To Campus digelar di Auditorium Prof. A. Amiruddin, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa (5/5/2026). Acara tersebut dihadiri Wakil Kepala BGN Nanik S. Deyang, Plt Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN Gunalan, Direktur Sistem Pemenuhan Gizi BGN Enny Indarty, Direktur Tata Kelola Pemenuhan Gizi BGN Sitti Aida Adha Taridala, serta Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Veni Hadju.
Secara strategis, kegiatan ini menegaskan peran Kedeputian Bidang Promosi dan Kerja Sama dalam membangun kemitraan ilmiah untuk memperkuat implementasi Program Makan Bergizi Gratis dari Sabang hingga Papua.
Dalam sambutannya, Wakil Kepala BGN Nanik S. Deyang menegaskan bahwa Program MBG lahir dari kepedulian terhadap kondisi masyarakat yang masih mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
“Program MBG ini lahir dari rasa kepedulian dan keprihatinan yang mendalam, berawal dari adanya ibu rumah tangga yang harus mencari makanan dari tempat yang tidak layak demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Dari situlah muncul kesadaran bahwa negara harus hadir memberikan jaminan pangan yang layak bagi masyarakat, terutama anak-anak sebagai generasi penerus bangsa,” ujar Nanik.
Menurutnya, Program MBG bukan sekadar bantuan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
“MBG adalah intervensi strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ketika anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik, maka mereka memiliki kesempatan tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan mampu bersaing di masa depan. Inilah fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045,” tambahnya.
Meski demikian, Nanik mengakui pelaksanaan Program MBG masih terus dievaluasi dan disempurnakan karena tergolong program baru berskala nasional.
“Kami memahami bahwa program sebesar ini tentu membutuhkan proses penyesuaian. Masukan dari masyarakat menjadi bagian penting untuk memperbaiki sistem dan memastikan manfaat program benar-benar dirasakan secara luas,” jelasnya.
Dalam paparannya, Nanik juga menyebut pemerintah telah menyiapkan dukungan anggaran besar guna menjamin keberlanjutan program MBG. Anggaran tersebut tidak hanya difokuskan untuk pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi masyarakat.
Ia mencontohkan dampak nyata program tersebut terhadap pelaku usaha lokal dan masyarakat sekitar.
“Kami melihat ada pelaku usaha kecil seperti pembuat tahu yang produksinya meningkat karena permintaan bertambah. Ada juga ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan, kini mendapatkan pekerjaan dan mampu membantu kebutuhan keluarganya. Ini menunjukkan bahwa MBG memberi dampak sosial dan ekonomi yang nyata,” tuturnya.
Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, kebijakan yang dibentuk BGN harus berbasis nilai-nilai ilmiah. Karena itu, peran perguruan tinggi dinilai menjadi fondasi utama agar Program MBG tidak hanya berjalan, tetapi juga tepat sasaran, terukur, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Sebelumnya, kegiatan BGN Goes To Campus juga telah dilaksanakan di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. Program ini akan terus dikembangkan di berbagai perguruan tinggi lainnya sebagai bagian dari penguatan kolaborasi berbasis ilmiah dalam mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis.**



